Membumikan Obat TB Gratis

Saat ini Indonesia menempati peringkat ke-4 sebagai negara dengan jumlah penderita TBC terbanyak di dunia, setelah China, India, dan Afrika Selatan. Bismillahirrahmaanirrahiim peringkat ini memang satu tingkat lebih baik dari posisi sebelumnya yang menempati posisi ketiga dan dalam beberapa tahun terakhir prevalensi jumlah penderita TBC yang menunjukkan penurunan ini, tapi  jumlah kasus TB masihlah sangat mengkhawatirkan karena masih tergolong sangat tinggi. Selain itu, TBC merupakan jenis penyakit penyebab kematian kedua terbanyak di dunia saat ini dengan tingkat penyebaran yang cukup significant: 1 penderita TBC berpotensi menularkan penyakitnya pada 10 orang lain. Jika hal ini tidak ditangani secara serius, maka bukan hal yang ajaib jika TBC menjadi ancaman kesehatan tingkat nasional dalam hitungan beberapa tahun atau bahkan hanya dalam hitungan bulan kan? Sehingga sangat perlu tindakan konkrit untuk mencegah dan mengurangi populasi penderita TB ini, salah satunya dengan meng-GRATIS-kan Obat TB ini. Selain alasan tingkat penderita TBC yang masih sangat tinggi dan cara penyebarannya yang tergolong growing fastly, beberapa fakta yang memang relevan me-WAJIB-kan pembuatan maklumat OBAT TB Gratis antara lain:
  1. Jika setiap penderita TB harus menanggung pembelian obat sendiri, dijamin banyak yang berpikir 1000 kali untuk berobat dan lebih memilih nrimo nasib karena harga obat TB tergolong mahal. Sekilas info saja mengenai riil biaya pengobatan TB ini, untuk TB yang biasa berkisar pada angka 2 juta Rupiah dan bisa membengkak sampai ratusan juta Rupiah jika kasus TBCnya sudah pada jenis yang komplek.
  2. Jangka waktu pengobatan yang harus dijalani oleh penderita TB minimal 6 bulan, artinya biaya pengobatan akan semakin membengkak sehingga jual rumah pun mungkin belum mencukupi.
  3. Mycobacterium Tuberculosis, Bakteri penyebab TB berkembang dengan cepat pada wilayah yang berpopulasi padat, ruangan dengan ventilasi yang  tidak lancar dan lingkungan yang tidak hygiene, artinya bahwa secara indikator ekonomi, penderita TB dominan berasal dari masyarakat ekonomi menengah ke bawah.


Ketiga resume di atas, menurut saya menjadi bagian yang melengkapi alasan dan tujuan pengobatan TB secara gratis ini. 



Reference:
1. Depkes
2. RRI

Read More >>

Kenali Gejala Tuberkulosis dan Segeralah Berobat!

Penyakit batuk merupakan salah satu jenis penyakit yang menjadi hits, manakala terjadi pergantian musim pergantian musim. Dan Bismillahirrahmaanirrahiim menjadi presumtif yang jamak terhadap jenis penyakit batuk yang terjadi dianggap penyakit biasa seperti halnya pilek dan demam yang banyak terjadi di saat peralihan musim kemarau ke musim hujan sehingga langkah pengobatan yang diambil juga tergolong ‘santai’, semisal dibelikan obat batuk di apotek, dikasih perasan jeruk nipis +kecap atau treatment makan kencur saja. Langkah awal pengobatan batuk ini memang sudah menjadi resep turun temurun yang terbukti bisa menyembuhkan batuk, tepatnya jika batuknya BUKAN jenis penyakit yang mengarah ke TBC.  Langkah-langkah inipun juga saya terapkan pada Ifa ketika sekitar dua bulan lalu dia mengalami sakit batuk. Terapi kencur dan  jeruk nipis hanya sedikit mengurangi gejala batuknya, artinya harus dibawa ke dokter dan diberi resep untuk mengobati penyakit batuknya. Dua hari istirahat di rumah dan kondisinya mulai membaik, Ifa bersikeras minta balik ke asrama karena jika terlalu lama ijin maka target hafalannya akan semakin banyak yang tidak terselesaikan sesuai jadwal yang seharusnya.

Beberapa waktu berlalu, kabar yang diberikan Ifa meyakinkan bahwa dia baik-baik saja. “ Batuknya tinggal sedikit-sedikit kok”, demikian penjelasannya setiap kali ditanyai tentang batuknya. Mengetahui batuk Ifa yang belum benar-benar sembuh, terbersit kekuatiran kalau-kalau penyakit batuknya Ifa betambah serius atau sebenarnya dia terinfeksi penyakit TBC?  Kekuatiran saya ini berdasarkan hasil kunjungan langsung yang pernah saya lakukan ke asrama Ifa saat awal-awal saya menjadi seorang Ibu [tahun lalu] dan kebetulan Ifa pas libur rutin yaitu sebulan sekali mendapat kesempatan untuk pulang. Estimasi saya sampai ke TBC karena:
  1. Ifa tinggal di asrama sekolah yang setiap kamarnya dihuni sekitar 10 anak. 
  2. Untuk mengatasi ruangan kamar yang gerah, sirkulasi udara digerakkan oleh sebuah kipas angin ukuran sedang.

Dua hal tersebut sangat mungkin bisa menjadi penyebab batuk yang di alami Ifa adalah Tuberkulosis mengingat jenis penyakit ini merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang penyebarannya melalui udara [dari melalui percikan dahak penderita TB yang sudah mengering]. Bukankah seseorang yang sedang sakit TB ketika batuk, bersin, berbicara atau meludah, mereka juga memercikkan kuman bacilli ke udara? Kalau salah satu teman Ifa ada yang terjangkit TBC, maka siapapun yang ada di sekitarnya bisa terpapar TB meski hanya menghirup udara yang mengandung sejumlah kecil kuman TB.

Ifa bersikukuh so far she’s just fine setiap kali ditanyai tentang kondisi kesehatannya dan suami juga yakin anak sulungnya sehat wal afiat, maka saya pun mensetting pikiran: Bisa jadi memang saya yang terlalu over reacting karena situasi yang langsung menjadi sosok seorang Ibu. 

Hingga hampir sebulan kemudian, saat saya masih di kantor, suami memberitahukan akan menjemput Ifa ke asrama karena baru saja mendapat kabar jika selain batuk yang belum sembuh [tepatnya belum membaik meskipun obat dari dokter sudah habis],  Ifa juga mengalami demam dan semalaman tidak bisa tidur. Spontan muncul lagi paranoid saya jangan-jangan Ifa terkena TBC? Bukankah apa yang di alami Ifa sebagian besar mengarah pada gejala-gejala orang yang kena TBC, antara lain:
  1. Batuk yang berlangsung tiga minggu atau lebih, yang pada tahap selanjutnya, bisa menghasilkan dahak yang berwarna abu-abu atau kekuningan kental, untuk kondisi yang lebih serius dahak tersebut bisa bercampur dengan darah
  2. Demam dan influenza [walaupun tidak terus menurus] 
  3. Nafsu makan menurun 
  4. Terjadi penurunan berat badan. 
  5. Mengalami Kelelahan.
  6. Pada malam hari berkeringat yang dapat dimulai dengan demam hingga menyebabkan keringat berlimpah yang diikuti tubuh jadi menggigil.  

Dari beberapa gejala-gejala yang identik dengan penderita TB di atas, setelah Ifa sampai di rumah, saya lihat ada beberapa gejala yang dialami Ifa yaitu pada point 1, 2, 4, 5, 6. Batuk Ifa sudah berlangsung hampir sebulan, berat badan Ifa juga menurun walaupun tidak significant [yang bisa disebabkan karena selera makannya yang menurun], pada malam hari Ifa demam dan menggigil juga.
Sekalian minta rontgen dan check darah saja Bi?”
Kalau dokternya tidak merujuk, nanti kita dikira kemeruh [=sok tahu] Nda?”
Biarin dianggap kemeruh, daripada nanti batuknya Ifa malah lebih parah dan terlambat pengobatannya yang serius, kita sendiri yang nanggung dampaknya kan? “

Melihat kondisi Ifa yang lemas, pucat, badannya demam dan dia bilang kadang-kadang terasa nyeri di dada,  maka kami memang harus bersikap sok tahu dan tidak ingin hanya menunggu entah kapan dokter akan memberikan instruksi untuk check darah dan rontgen.  Pertimbangan ini tidak hanya semata demi kesehatan Ifa, tapi juga untuk teman serta orang-orang sekitarnya. Mengingat penularan penyakit TBC ini relatif mudah dan gejala awal terjangkitnya batuk yang dialami seseorang seringkali terlihat dan dianggap sebagai batuk biasa.  Oleh karena itu, dengan meminta check darah dan rontgen kami berharap bisa lebih cepat mengetahui jenis batuk yang dialami Ifa, sehingga bisa lebih cepat pula dilakukan tindakan lanjutan yang lebih intensif karena Pengobatan TB ini kan tergolong pengobatan yang bersifat jangka panjang, umumnya butuh waktu sekitar 6-9 bulan. Selain itu, SEANDAINYA hasil diagnosa menyatakan positif TB, selain pengobatan medis secara intensif, maka dampak paparan bakteri  Mycobacterium tuberculosis ini juga bisa sedini mungkin diminimalkan dengan upaya-upaya:
  1. Menggunakan masker untuk mencegah penyebaran bakteri penyebab TBC.
  2. Tidak meludah [mengeluarkan dahak] sembarang tempat
  3. Meminimalkan kontak dengan banyak orang JIKA di suspect sebagai penderita penyakit TBC aktif.
  4. Meningkatkan pola hidup sehat  dengan re-setting menu makan yang pro-aktif untuk penyembuhan TBC, sanitasi  lingkungan lebih dijaga lagi.
After all, pemeriksaan  foto rontgen dan test darah Ifa Alhamdulillah hasilnya tidak ada indikasi ke TBC, tapi lebih ke Bronchitis dan beberapa parameter test darah yang sedikit melenceng dari baku standar, indikasinya lebih pada akibat selera makan yang menurun dan kurang minum.


Read More >>

Lima Pilar Daya Saing Indonesia Hebat

Untuk berproses menuju Indonesia yang lebih baik secara holistik, Indonesia sudah memiliki modal yang lengkap, tapi pola pengelolaan dan managementnya masih belum berpihak pada tujuan nasional seperti yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945. Setidaknya ada lima modal kuat yang telah ada bahkan sejak negara ini masih berbentuk kepulauan. Lima Modal yang sangat luat untuk menopang pilar Daya Saing  Indonesia Hebat yaitu:
  1. Potensi sebagai negara maritim yang kuat karena Indonesia memiliki wilayah maritim yang kaya dengan hasil perikanan dan laut. Wilayah Indonesia 2/3-nya terdiri dari perairan yang luas dengan sumber kekayaan [ikan] alam yang berkategori renewable resources dan keberanian serta ketangguhan para nenek moyang kita yang menjelajah samudera sebagai pelaut dan membukukan sejarah bahwa Indonesia adalah negara Maritim yang besar. Dan semoga berabad-abad tahun ke depan Indonesia tetap bisa berkibar sebagai negara Maritim yang tangguh, bukan sebatas memorabilia dalam bait-bait lagu ataupun catatan tinta sejarah belaka. 
  2. Mayoritas penduduk bermata pencaharian dengan bercocok tanam merupakan sumber daya untuk meraih kedaulatan pangan dalam negeri dan menjadi lumbung pangan interasional. Mempertahankan lahan [subur], intensifikasi dan diversifikasi pertanian secara simultan di harapkan bisa jadi langkah-langkah progresive dalam rangka peningkatan produksi pangan. Dan langkah perlindungan terhadap produksi dan jaminan ketersediaan pangan lainnya juga perlu disiapkan  antara lain: restriksi perdagangan, subsidi konsumen, perlindungan sosial dan kebijakan peningkatan produksi atau penawaran 
  3. Sumber Daya Alam non Hayati yang terkandung dalam bumi Indonesia sangatlah lengkap, bahan tambang mineral, minyak bumi dan gas alam perlu management eksplorasi yang tidak berbasis eksploitasi lagi karena ketersediaan sumber alam non hayati memiliki kuantitas yang terbatas. Sehingga perlu segera dimulai inovasi energi alternatif yang bisa menggantikan ketergantungan pada sumber alam yang tidak bisa diperharui tersebut 
  4. SDM yang dimiliki Indonesia saat ini secara kuantitas dan kualitas sangat eligible untuk bersaing di tingkat internasional. Dari segi taraf pendidikan maupun skill, SDM Indonesia sudah mampu bersaing secara global. Sudah banyak entrepreneur muda yang melangkah untuk menciptakan lapangan kerja baru sehingga mampu mengurangi angka pengangguran 
  5. Dan letak wilayah Indonesia di garis katulistiwa yang menjadikan Indonesia memiliki posisi strategis dalam lalu lintas perniagaan dunia sehingga sangat memungkinkan jika negara ini memegang perang utama dalam perputaran roda perdagangan dunia.
Kelima pilar yang saling mendukung tersebut HANYA butuh pengelolaan dan kepemimpinan yang tepat untuk mewujudkannya jadi manfaat bagi seluruh rakyat Indonesia. Bertepatan dengan agenda pemilu 2014 ini, sekaligus merupakan momentum untuk melakukan Re-Engineering sistem penyelenggaraan pemerintahan dimana antara jajaran parlemen dan legislatif yang secara visioner berkerjasama secara sinergis agar menghasilkan outcome yang simultan sehingga Daya Saing Indonesia Hebat dipasar dunia global bisa solid dan tangguh, terlebih dalam rangka menghadapi era pasar bebas.
http://goo.gl/KZlwDU

Maka untuk merumuskan kelima pilar di atas bisa mengejawantah, maka langkah pertama terkait dengan agenda pemilu tahun 2014 ini adalah Pemilu menghasilkan pemimpin yang credible untuk menjadi CEO dari negara RI ini sehingga mampu mengorganize pemerintahan secara integral yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan kompeten untuk memanage iklim dalam negeri yang kondusif dan politik intersional yang memiliki posisi tawar kuat di antara bangsa-bangsa lainnya.
  1. Memilih Calon wakil rakyat [baik legislatif maupun parlemen /Capres-Cawapres] yang sudah memiliki kiprah nyata dan memiliki program jangka pendek maupun panjang yang jelas dan masuk akal. 
  2. Jangan pernah memilih calon wakil rakyat yang tiba-tiba muncul menjelang penyelenggaraan pemilu dengan menyebarkan poster dimana-mana, hingga berebutan menempelkannya di pepohonan pinggir jalan dengan sesuka hati, seolah momentum pemilu tak lebih dari kontes narsisasi diri di media sosmed. 
  3. Memahami program-program yang di deklarasikan, apakah sederet program tersebut masuk akal atau sekedar janji-janji manis demi menarik simpatik massa. politik sebagai ruang pengabdian, untuk memperjuangkan kepentingan rakyat serta kepentingan bangsa dan negara.
At least, tiga point tersebut merupakan sebagian hal-hal yang bisa kita lakukan demi harapan menjadi Indonesia Hebat. Minimal dengan menjadikan tiga point tersebut  sebagai SOP dan dasar hukum bagi para calon pemilih dalam pemilu ini, harapannya adalah sistem pemerintahan baru yang nantinya terbentuk bisa mengelola Lima Pilar Daya saing yang di miliki Indonesia secara optimal demi kepentingan nasional, sehingga wajah politik Indonesia tidak lagi di dominasi oleh kasus korupsi dan penyimpangan tanggung jawab lainnya.  Berliku-liku dunia politik dan berbagai image tentang dunia politik, tapi tak bisa disanggah jika iklim politik yang kondusif merupakan salah satu kunci penting untuk membangun negera ini sehingga bisa menuju negara impian seperti Sumpah Palapa yang dulu diikrarkan oleh Gajah Mada yang dalam refleksi di era masa sekarang bisa saya sebut dengan nama Daya Saing Indonesia Hebat




Read More >>